Sedikit Kisah di Adelaide (2)


Thanks Hoang for this photo

Thanks Hoang for this photo

Hari ini adalah hari terakhir IAP di Flinders University. Lima minggu saya beserta kawan-kawan dari Vietnam, Laos, Mongolia bersama-sama berlajar untuk beradaptasi dengan situasi akademis di sini. Sejujurnya apa yang diajarkan disini tidak jauh berbeda dengan apa yang saya di dapat waktu IAP di Jakarta. Namun, ada beberapa hal yang berbeda. Pertama, tingkat tekanannya tidak terlalu tinggi, di sini saya tidak takut untuk mengeluarkan pendapat dibandingkan sewaktu IAP di Jakarta. Di sini timbul kepercayaan diri karena encourage yang diberikan oleh teacher2 disini sangat membantu siswa untuk aktif. Saya jadi ingat sebuah note dari supervisor saya waktu meeting pertama kali “there is no silly question”. Tidak ada pertanyaan yang bodoh, orang Australia sangat menghargai pendapat , pertanyaan,  walau kadang bahasa inggris kita sangat pas-pasan, namun mereka mencoba memahami apa yang kita katakan. Tidak ada yang benar dan yang salah, yang ada hanya bagaimana mengapresiasi orang lain.

Hal yang kedua, cukup di bilang menarik karena sejujurnya bahasa inggris student dari Indonesia lebih baik dari pada student Vietnam dalam hal pronounce, namun mereka sangat percaya diri untuk tetap bicara, well done bukan ? Mereka juga sangat ramah dan baik, hampir mirip dengan orang-orang Indonesia yang ramah.

Hari ini adalah hari di mana essay dikumpulkan dan mempresentasikan essay di hadapan teman-teman. Sebenarnya sempat terpikir oleh ku tadi, dulu waktu kuliah S1, kalau mau presentasi takutnya bukan main, ga percaya diri, padahal pake bahasa Indonesia. Namun sekarang sepertinya berbeda, ada rasa PD karena culture akademis di sini yang luar biasa. Feedback yang diberikan oleh teman-teman disarankan oleh teacher kami harus di dahului oleh hal yang positif, baru kritik yang konstruktif bukan kritik yang menjatuhkan. Selain itu kami harus memulai memberikan feedback pada teman yang presentasi untuk memulai komentar  dengan kalimat yang positif. Jadi pada prinsipnya semuanya mengesankan dengan sisi positifnya, walau harus ada masukan untuk perbaikan ke depannya.

Sikap dan culture akademis di sini memang pada kenyataanya berbeda dengan apa yang saya rasakan terutama waktu saya kuliah S1 dulu. Terhitung saya masih memiliki 47 bulan lagi untuk mengambil nilai2 dan mendapatkan pengalaman disini. Walau tidak bisa dipungkiri bahwa rasa kangen untuk pulang selalu ada pada keluarga terutama, pada bapak dan ibu yang sudah senja usianya. Namun katanya kadang kita memang harus memilih jalan yang jarang di lalui orang (sean covey)

” There are people who make things happen,

There are people who watch happen

and there are people who wonder what happened”

-Jim Lovell-

–Deepdene Avenue, Adelaide–    19 July 2013

 

Advertisements

2 thoughts on “Sedikit Kisah di Adelaide (2)

  1. hai mbak asni…nama saya dian noviana. saya guru bahasa inggris di smk 2 indramayu. insha allah, bulan agustus – september akan pergi ke adelaide dalam rangka pelatihan or magang di adelaide. membaca cerita mbak membuat saya cukup tertarik untuk mengikuti jejak mbak. contact me ya mbk di diannoviana82@yahoo.com
    salam kenal:D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s